SDM Autis

Manajemen-ti.com — Tahun 2002, seorang peretas Skotlandia pengidap sindrom Asperger (salah satu jenis/spektrum kelainan Autism, red.) berhasil melancarkan sebuah serangan militer peretasan komputer terbesar sepanjang masa melawan NASA dan situs-situs pertahanan Amerika Serikat lainnya. Serangan tersebut meninggalkan pesan penting berbunyi: “keamanan anda payah!”. Hari-hari ini, lembah silicon dilaporkan penuh dengan orang-orang pengidap sindrom Asperger ini; lusinan CEO perusahaan startup banyak dikenal sebagai orang yang obsesif, anti sosial, dan cuek luar biasa. Bukankah biasanya para karyawan akan mengikuti pimpinannya?

Salah satu misi teknologi untuk membuat kehidupan yang lebih baik seringkali juga menyentuh orang-orang yangmemiliki ketunaan tertentu. Para peneliti Cina –misalnya—baru-baru ini mengembangkan sebuah alat untuk Microsoft Kinect untuk menerjemahkan bahasa isyarat menjadi teks tertulis, yang dapat bermanfaat bagi penderita tuna rungu. Sebuah perusahaan startup India, Kriyate, telah membuat sebuah smartphone yang menggunakan huruf Braille. Kita juga saksikan produk fantastic bernama OrCam yang tak ubahnya seperti Google Glass bagi tuna netra. Diluar yang berbentuk hardware, banyak juga aplikasi yang digunakan untuk membantu saudara-saudara kita yang kurang beruntung ini, seperti misalnya aplikasi untuk para pengguna kursi roda, aplikasi untuk pengidap Alzheimer, dan aplikasi untuk orang-orang Autis.

Teknologi memang tidak dapat mengubah kondisi seorang yang cacat, tapi setiap bantuan kecil dan hal kecil seperti aplikasi dapat membuat sebuah perbedaan besar bagi manusia. Tapi mungkin hal yang paling penting yang dapat diberikan oleh IT kepada orang cacat adalah PEKERJAAN. Banyak sekali diantara perusahan pencari kerja saat ini adalah perusahaan IT, dan seringkali para pengidap ketunaan ini berjuang untuk mencari pekerjaan. Sebuah kabar gembira bagi mereka ketika SAP mengumumkan rencananya untuk melakukan rekrutmen bagi para pengidap Autis.

(Baca juga: Sistem Outsourcing SDM IT, Perlukah Didemo juga?)

Membutuhkan software tester dan programmer, perusahaan jerman tersebut menginginkan 1 persen (sama dengan proporsi pengidap Autis seluruh dunia) dari karyawan globalnya (65 ribu karyawan) adalah orang-orang Autis pada 2020. “Hanya dengan mempekerjakan orang-orang yang berfikir berbeda dan bersemangat inovasi saja lah maka SAP akan siap untuk menghadapi tantangan abad 21,” kata Luisa Delgado, Chief Human Resources SAP. Enam orang sudah kami rekrut untuk kantor cabang kami di Bangalore. Dengan hanya 15 persen orang dewasa yang autis yang bekerja full-time, menurut National Autism Society, akan menjadi awal dari sebuah revolusi kecil.

SAP bukanlah perusahaan pertama yang menggunakan kebijakan seperti ini. Sebenarnya banyak perusahaan startup IT yang dibangun oleh orang-orang Autis dan Aspergis. Tapi sejauh ini SAP adalah perusahaan IT terbesar yang terang-terangan mengumumkan kebijakan perekrutan seperti ini. Proses rekrutmen mereka ini dibantu oleh perusahaan berbasis Denmark, Specialisterne. Ada pula perusahaan Autonomy Works, Auticon, Aspiritech, dan Square One yang juga melakukan rekrutmen terhadap orang-orang yang berada dalam spektrum Autisme.

Dan hal ini sebenarnya sangat logis, mengingat dunia software yang banyak menggunakan angka-angka, matematis, dibutuhkan pikiran-pikiran yang super fokus dan tidak mudah terganggu oleh lingkungan sekitar adalah diantara kelebihan yang dimiliki oleh para pengidap Autis. Ditambah lagi kecenderungan daya ingat yang spesial dikombinasikan intoleransi terhadap kesahahan seringkali membuat produk yang dihasilkan menjadi lebih berkualitas dibanding orang lain pada umumnya. Tentu saja perlu ada perubahan dalam lingkungan kerja di kantor, dan para manajer perlu dididik dengan bagaimana cara komunikasi terbaik dengan para karyawan model ini (yang dapat membuat shock jika tidak terbiasa, misalnya karena sering salah dalam mendefinisikan batasan kesopanan/kekasaran). Apa yang dilakukan oleh SAP dan perusahaan-perusahan lainnya tersebut diatas adalah sesuatu yang baik. Jika semua perusahaan IT besar mengikuti pimpinannya, maka IT akan dapat memberikan peluang yang sama dalam proses rekrutmen diperusahaannya, serta menekan stigma-stigma negatif bagi para pengidap Autis itu sendiri.

Sementara itu, ketika orang sering melihat kondisi cacat adalah sesuatu yang perlu dihindari atau membuat malu, kini mereka tidak perlu lagi  melakukannya. Jika orang-orang seperti Bill Gates dan Mark Zuckerberg adalah seorang Aspergis, maka ingatlah bahwa mereka ini adalah diantara orang-orang terkaya dan berpengaruh di dunia ini. Mereka mungkin tidak peduli apa yang Anda fikirkan, mereka hanya tetap melakukan apa yang mereka merasa ahli padanya.[manajemen-ti/idg/picture:speechbuddy]