IDC Smart City

Manajemen-ti.comIDC Asia/Pacific pada 3 Agustus 2017 kemarin mengumumkan para pemenang 2017 Smart City Asia Pacific Awards (SCAPA) dengan New Zealand dan Singapura memimpin hampir semua kategori inisiatif Smart City, masing-masing dalam empat dan tiga kategori. Pemenang lain termasuk Australia, Korea Selatan, Hongkong, dan Cina yang masing-masing memenangkan dua kategori. Sementara itu Malaysia, Taiwan, dan Thailand berhasil meraih kemenangan dalam satu kategori.

(Baca juga: Tata Kelola Internet Dunia, Studi Kasus Telegram)

Kini dalam tahun ketiganya, SCAPA memberikan penghargaan pada proyek-proyek Smart City yang paling luar biasa di Asia/Pacific di luar Jepang (Asia Pacific excluding Japan/APeJ) dalam total 14 kategori penghargaan Smart City. Betapapun 18 proyek disebut sebagai yang terbaik di Asia Pacific (di luar Jepang) karena terjadi persaingan yang sangat ketat di 4 kategori sehingga akhirnya diputuskan pemenang ganda pada kategori-kategori tersebut. Kategori tersebut adalah Administrasi, Pendidikan, Penggunaan Lahan dan Manajemen Lingkungan, serta Bangunan Pintar.

Dan pemenang IDC Smart City Asia Pacific Award 2017 ini adalah:

IDC Smart City Asia Pacific Award 2017

Bagaimana dengan Smart City di Indonesia

Bagaimana dengan Indonesia? Bukankah sepertinya beberapa tahun belakangan, sejumlah daerah terdengar gencar menggelontorkan anggaran yang cukup signifikan untuk proyek-proyek bertajuk Smart City.

Pada awal Mei 2017 yang lalu, sejumlah kementrian didukung oleh Bappenas dan Kantor Kepresidenan Republik Indonesia sepakat untuk menginisiasi gerakan 100 Smart City di Indonesia. Gerakan ini dimulai dengan 25 kota/kabupaten yang dipilih untuk mengikuti program ini.

Untuk memilih 25 daerah tersebut, pada 2-3 Mei 2017 yang lalu, Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) memanggil perwakilan dari 65 daerah untuk menjalani proses asesmen. Pada proses asesmen ini, Kominfo melibatkan 19 tim ahli yang akan membantu menilai kesiapan tiap daerah dalam melakukan inisiatif smart city, sekaligus memberikan pengarahan kepada pemerintah daerah untuk menyusun roadmap dan mengimplementasikan inisiatif smart city.

Harapannya, pada tahun 2019 nanti, akan ada 100 pemerintah daerah di Indonesia yang telah berhasil mengimplementasikan smart city.

Kita perlu bertanya apa definisi “telah berhasil mengimplementasikan Smart City” tersebut? Kalau saat ini baru ditetapkan ada 25 kabupaten/kota yang akan dibantu untuk implementasi Smart City. Maka tentu yang pertama kali harus dilakukan oleh daerah-daerah tersebut adalah menyusun perencanaan. Sebagaimana halnya yang dilakukan Bayuwangi sebagai salah satu kabupaten terpilih yang sedang dibimbing oleh tim Kominfo untuk menyusun Master Plan Smart City Banyuwangi untuk 5-10 tahun ke depan. Sehingga di akhir 2017 nanti, daerah-daerah tersebut baru memiliki Master Plan Smart City. Bagaimana proses penganggarannya?

Kapan akan melakukan proses pengadaannya?

Lalu implementasinya tentu perlu bertahap.

Jadi sebenarnya Smart City itu apa?

Apa bedanya dengan e-Government, sebuah konsep yang sudah hampir 20 tahun yang lalu telah marak menjadi jargon yang menghiasi daftar proyek di berbagai pemda. Pemerintah Pusat melalui Kementrian Kominfo pun juga menyusun berbagai standard dan panduan implementasi e-Government. Namun sepertinya tidak jelas sejauh mana keberhasilan inisiatif-inisiatif tersebut.

Lalu belakangan ketika muncul terminologi “Smart City” ini, tentu kita berharap ini bukan sekedar jargon baru yang akan bernasib sama dengan e-Government dulu. Semoga inisiatif-inisiaitf yang dilakukan saat ini telah belajar banyak dari kegagalan-kegagalan yang terjadi di masa lalu. Semoga.

[manajemen-ti/idc]